Showing posts with label IPA. Show all posts
Showing posts with label IPA. Show all posts

Monday, March 2, 2015

Echinodermata

File ini dalam bentuk PPT, dapat dilihat di:


Echinodermata (Slide Share)


.
.
.

Thanks!

Flagellata

FLAGELLATA

Flagellata (dalam bahasa Latin diambil dari kata “flagell” yang berarti cambuk) atau Mastigophora (dari bahasa Yunani,”mastig” yang berarti cambuk, dan “phora” yang berarti gerakan), dalam taksonomi kuno Flagellata merupakan salah satu kelas dalam filum protozoa atau protista yang mirip hewan, namun dalam taksonomi modern menjadi superkelas yang dibagi menjadi dua kelas, yaitu Phytomastigophorea (Fitoflagellata) yang mirip tumbuhan karena memiliki kromatafora, sehingga dapat melakukan fotosintesis dan Zoomastigophorea (Zooflagellata) yang  menyerupai hewan, tidak berkloroplas dan bersifat heterotrof.
Alat gerak Flagellata adalah flagellum atau cambuk getar, yang juga merupakan ciri khasnya, sehingga namanya disebut Flagellata (flagellum = cambuk).
Fitoflagellata diklasifikasikan menjadi 3 kelas, yaitu Euglenoida, Nuctiluca Miliaris dan Volvox Globator. Sedangkan Zooflagellata terdiri dari Trypanosoma dan Leishmania

Ciri – Ciri
Apabila kita melihat dari namanya, maka Flagellata ini bergerak dengan bantuan satu atau lebih flagela. Bentuk flagela seperti cambuk. Letak flagel berada pada ujung depan sel (anterior), sehingga saat bergerak seperti mendorong sel tubuhnya, namun ada juga letak flagel di bagian belakang sel (posterior). Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagella juga dapat digunakan untuk mengetahui keadaan lingkungannya. Tampak pula membran yang berombak-ombak dan kelihatan menonjol, sehingga flagela dan membran ini berguna untuk gerak aktif dan/atau mengumpulkan makanan dengan cara menghasilkan aliran air di sekitar mulut sehingga makanan dapat memasuki mulut. Flagellata juga memiliki alat pernapasan yang disebut stigma (bintik mata). Stigma ini berfungsi sebagai alat respirasi yang dilakukan untuk pembakaran hidrogen yang terkandung di dalam kornel.
Sitoplasma Flagellata dikitari oleh polikel atau pembungkus yang nyata sehingga memberikan bentuk tubuhnya. Bentuk tubuh Flagellata sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik (memiliki berbagai bentuk morfologi). Flagellata hidup secara soliter dan ada juga yang berkoloni dalam air (air tawar, danau, sungai, kolam, genangan air) dengan suhu 16-25°C, dan pH 6-8.
Flagellata memperoleh nutrisi dengan beberapa cara :
§  holozoik (heterotrof), apabila makanannya berupa organisme lain yang berukuran lebih kecil
§  bersifat holofilik (autotrof), yaitu dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organik yang berasal dari lingkungan karena memiliki kloroplas
§  bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organik dari organisme yang telah mati
§  bersifat parasitik dengan cara menempel pada inang untuk mendapat nutrisi.
Flagellata meliputi sekitar 1500 jenis Protozoa yang semuanya mempunyai alat gerak flagela. Semua jenis dalam kelompok ini berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri secara membujur. Beberapa jenis Flagellata bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Oikomonas synsyanotica dan Amphisolenia bersimbiosis dengan Cyanobacteria. Jenis yang lain bersifat parasit yang mengifeksi manusia dan menimbulkan penyakit pada alat kelamin, usus, dan penyakit sistemik.

Cara Reproduksi
Reproduksi pada Flagellata ada 2 macam, yaitu vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif (aseksual) dengan cara pembelahan biner secara longitudinal, misalnya pada Euglena.
Reproduksi generatif (seksual) terjadi karena persatuan antara ovum dan spermatozoid, misalnya pada Volvox. Reproduksi secara generatif berfungsi untuk memperkaya variasi genetik, sehingga menghasilkan individu mutan yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan. Pada Volvox terdapat koloni jantan yang menghasilkan sperma dan koloni betina yang menghasilkan ovum, namun ada juga koloni yang bersifat hermafrodit yang dapat menghasilkan sperma serta ovum. Meskipun koloni yang bersifat hermafrodit dapat menghasilkan sperma dan ovum dalam satu koloni, kematangan sperma dan ovum tidak pada saat yang bersamaan, sehingga tidak dapat terjadi pembuahan diri. Ovum dihasilkan oleh oogonium, sedangkan Volvox jantan menghasilkan spermatozoid oleh spermatogonium. Setelah terjadi fertilisasi akan menghasilkan zigot, zigot akan menghasilkan empat spora, yang kemudian akan menjadi individu baru.

Manfaat
Jenis Flagellata Trichonympha dan Myxotricha hidup di dalam usus rayap yang membantu rayap untuk mencerna kayu karena dapat mengeluarkan enzim selulosa. Enzim ini membuat partikel kayu tersebut menjadi lebih lunak, sehingga mudah dirombak dan terurai menjadi bagian-bagian kecil lalu diserap oleh rayap. Bahan yang diserap ini sebagian dibutuhkan oleh rayap dan sebagian untuk kelangsungan hidup Flagellata.
Di lingkungan perairan flagellata berperan sebagai phytoplankton dan zooplankton sebagai sumber pakan alami ikan dan udang. Euglena viridis dapat digunakan sebagai sumber Protein Sel Tunggal (PST), karena memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Selain itu, Flagellata juga berperan sebagai predator karena memangsa organisme uniseluler atau ganggang, bakteri, dan microfungi, sehingga populasi organisme dapat dikendalikan. Selain berfungsi sebagai pengendali, Flagellata yang bersifat saprofitik berperan sebagai dekomposer dalam rantai makanan.

Contoh
·         Trypanosoma gambiense
Golongan dari spesies ini pada umumnya hidup sebagai parasit yang hidup di dalam darah, baik manusia maupun ternak. Penyakit ini pernah menyerang orang Afrika bagian barat dengan gejala awal si penderita suka tidur dan dikenal dengan penyakit tidur. Trypanosoma gambiense hidup di dalam kelenjar ludah lalat Tsetse (Glossina palpalis). Pada saat menusuk kelenjar yang mengandung parasit tersebut masuk ke dalam darah manusia yang menyerang getah bening (kelenjar limfa) dan akibatnya kelenjar limfa si penderita membengkak/membesar dan terasa nyeri disertai demam tinggi.
·         Trichomonas vaginalis
Bila ditinjau dari namanya, jenis ini menimbulkan satu tipe penyakit vaginitis, yaitu merupakan peradangan pada vagina yang ditandai dengan keluarnya cairan dan disertai rasa panas seperti terbakar dan rasa gatal. Species ini tidak mempunyai stadium sista dan menyebar sebagai penyakit kelamin. Dapat juga menginfeksi dan menular pada pria yang menimbulkan penyakit prostatitis. Trichomonas vaginalis dapat berpindah dari wanita pada ke pria melalui hubungan seksual.
·         Giardia lamblia
Merupakan satu-satunya Protozoa usus yang menimbulkan penyakit disentri/diare dan kejang-kejang di bagian perut. Protozoa ini ditemukan dalam duodenum/usus dua belas jari. Penularannya melalui makanan atau minuman yang tercemar dan melalui kontak dari tangan ke mulut.
·         Leishmania donovani
Leishmania donavani menimbulkan penyakit pada anjing dan dapat ditularkan pada manusia. Penyakit ini menyebabkan perbesaran limpa, hati, kelenjar limfa, anemia sehingga dapat menimbulkan kematian. Inang perantaranya sejenis lalat pasir (Phlebotomus). Di Indonesia penyakit seperti ini belum pernah ditemukan.

Untuk file dalam bentuk PPT, dapat dilihat di:

Flagellata (Slide Share)



Laporan Praktikum Listrik Dinamis

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA
LISTRIK DINAMIS

TUJUAN         :
1.      Mengetahui cara menggunakan Basicmeter (voltmeter dan amperemeter)
2.      Mengukur kuat arus listrik dalam suatu rangkaian seri dengan amperemeter
3.      Mengukur beda potensial dalam suatu rangkaian parallel dengan voltmeter

DASAR TEORI          :
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir dalam suatu penghantar per satuan waktu. Arus listrik dalam sebuah rangkaian  hanya dapat mengalir dalam suatu rangkaian tertutup dari potensial tinggi (+) ke potensial rendah (-).
Basicmeter digunakan sebagai alat ukur arus dan tegangan DC dengan shunt dan pengganda terpasang pada alat. Dilengkapi dengan tutup geser untuk mengubah fungsi sebagai amperemeter atau voltmeter.
Pada posisi A, alat berfungsi sebagai amperemeter yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik dengan batas 100 mA, 1A, 5A, (DC). Basicmeter untuk penggunaan amperemeter dirangkai seri dengan komponen/rangkaian yang akan diukur kuat arusnya.  Pada posisi V, alat berfungsi sebagai voltmeter yang digunakan untuk mengukur tegangan listrik dengan batas ukur 100 mV, 1V, 10V, dan 50V (DC). Basicmeter untuk penggunaan voltmeter dirangkai parallel dengan komponen/rangkaian yang akan diukur tegangan listriknya.
Basicmeter memiliki skala ganda dengan batasan -10; 0; 100 dan -5; 0; 50. Hambatan dalam sekitar 1000 Ohm dengan pencegah pembebanan lebih, dilengkapi pengatur kalibrasi jarum. Ketelitian + 2,5% pada simpangan penuh.
Hukum ohm berbunyi : “Besarnya arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar, berbanding lurus dengan beda potensial di antara kedua ujung penghantar, dan dipengaruhi oleh jenis penghambatnya”.
Secara matematis, dituliskan : V = I . R  , dengan;   
V         = beda potensial  (volt)                      
I           = kuat arus listrik (A)
R         = hambatan listrik (ohm)

ALAT DAN BAHAN  :
-          Basicmeter
-          Kabel jepit buaya
-          2 kabel listrik
-          3 baterai (1 baterai D 1,5 V dan 2 baterai AA 1,5 V)
-          3 bohlam lampu 3,8 V

CARA KERJA           :
1.      Potong kabel listrik sepanjang ± 20 cm
2.      Sambungkan kabel listrik 1 pada bohlam dan salah satu kutub baterai, dan kabel listrik 2 pada kutub lain baterai
3.      Buatlah rangkaian seri untuk mengukur kuat arus listriknya (amperemeter) atau parallel untuk mengukur tegangan listriknya (voltmeter)
4.      Jepitkan kabel 1 pada jepit buaya yang pertama dan kabel 2 dengan jepit lainnya
5.      Geser penutup ke huruf A untuk menggunakan amperemeter atau V untuk menggunakan voltmeter
6.      Sambungkan jepit dengan kabel yang terhubung dengan kutub negative baterai pada socket angka nol (yang berada di tengah) dan kabel yang terhubung dengan kutub positif pada socket yang berada disebelah kiri atau kanan (tergantung sedang memakai amperemeter atau voltmeter)
7.      Perhatikan skala yang ditunjukkan oleh jarum pada basicmeter
8.      Lakukan hal yang sama untuk jumlah baterai yang lebih banyak dan jumlah bohlam lampu yang lebih banyak juga

HASIL PENGAMATAN        :
1 LAMPU (1,5 V)
Rangkaian Amperemeter                                                        Rangkaian Voltmeter





1 LAMPU (3 V)
            Rangkaian Amperemeter                                                        Rangkaian Voltmeter





2 LAMPU (6 V)
            Rangkaian Amperemeter                                                        Rangkaian Voltmeter






JAWABAN PERTANYAAN :
1.      Untuk mengukur kuat arus listrik harus digunakan alat ukur Amperemeter yang dirangkai secara seri dengan rangkaian yang akan diukur kuat arusnya.
2.      Untuk mengukur beda potensial digunakan alat ukur Voltmeter yang dirangkai secara parallel dengan rangkaian yang akan diukur beda potensialnya.
3.      Gambar rangkaian amperemeter yang benar






4.      Gambar rangkaian voltmeter yang benar






KESIMPULAN           :

Alat – alat ukur listrik digunakan untuk mengukur besaran listrik. Multimeter atau basicmeter menggabungkan fungsi voltmeter, amperemeter dan ohmmeter. Untuk mengukur kuat arus listrik harus digunakan alat ukur Amperemeter yang dirangkai secara seri dengan rangkaian yang akan diukur kuat arusnya. Untuk mengukur beda potensial digunakan alat ukur Voltmeter yang dirangkai secara parallel dengan rangkaian yang akan diukur beda potensialnya.

Proses pada Litosfer dan Atmosfer Bumi

File ini dalam bentuk PPT, dapat dilihat di:


Proses pada Litosfer dan Atmosfer Bumi

.
.
.

Thanks!

Friday, March 22, 2013

Laporan Praktikum Massa Jenis



MASSA JENIS


I.                   TUJUAN
1.      Mengukur massa jenis benda padat.
2.      Mengukur massa jenis benda cair.


II.                DASAR TEORI
Besaran dalam fisika diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki besaran (besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam pengukuran.

Berdasarkan satuannya, besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan besaran yang lain. Besaran pokok bersifat bebas, artinya tidak bergantung pada besaran pokok yang lain.

Massa jenis termasuk besaran turunan dari besaran pokok massa dan panjang. Massa jenis (rapat massa atau kerapatan benda) adalah kerapatan suatu zat, yaitu perbandingan antara besarnya massa dengan volume suatu zat/benda yang bersifat tetap. Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat mempunyai massa jenis yang berbeda - beda. Sehingga massa jenis zat dapat menjadi salah satu ciri khas suatu benda yang dapat membedakan dengan yang lain.

Massa jenis zat tidak dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran benda. Walaupun bentuk dan ukuran benda berbeda – beda, selama terbuat dari jenis bahan yang sama, maka massa jenis zat tersebut adalah sama.

Secara matematis, massa jenis dapat dirumuskan sebagai berikut.

e9306ec7c31a645b9e301b006f1f5ecd.png ρ dibaca rho.

dengan :
ρ    = massa jenis (kg/m3) 
m   = massa benda (kg)
v    = volume benda (m3)

Untuk menentukan massa benda, dapat dilakukan dengan menimbang benda tersebut dengan timbangan yang sesuai seperti neraca analitik, neraca digital atau yang lainnya.

Untuk menentukan volume benda, dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan bentuk bendanya.
a)      Benda bentuk beraturan
Pengukurannya dapat dilakukan dengan rumusan yang sesuai. Contoh : kubus – hitung panjang sisinya kemudian gunakan rumus volume kubus (s3)

b)      Benda bentuk tidak beraturan
Pengukurannya dapat dilakukan dengan cara memasukkan benda ke dalam gelas ukur berisi air dengan volume tertentu. Selisih volume awal dan akhir dari air adalah volume dari benda tersebut.

No
Nama Zat
Massa Jenis (kg/m3)
1
Air (4°C)
1.000
2
Air Laut
1.030
3
Alkohol
800
4
Aluminium
2.700
5
Besi
7.900
6
Bensin
900
7
Karbon Dioksida
1,98
8
Darah
1.040
9
Emas
19.300
10
Es
900
11
Helium
0,18
12
Hidrogen
0,09
13
Kaca
2.600
14
Oksigen
1,43
15
Kuningan
8.400
16
Nitrogen
1,25
17
Perak
10.500
18
Platina
21.450
19
Raksa
13.600
20
Seng
7.140
21
Tembaga
8.900
22
Timah
11.300
23
Udara (27°C)
1,2
Penerapan/aplikasi konsep massa jenis dalam kehidupan sehari – hari sangat banyak sekali, contohnya sebagai berikut.

1)      Penerapan konsep massa jenis pada kapal selam
Massa jenis besi pada kapal selam lebih besar daripada massa jenis air laut, namun kapal selam tidak tenggelam di dasar lautan, hal ini dikarenakan ketika terapung, massa jenis total kapal selam lebih kecil dari air laut dan sewaktu tenggelam massa jenis total kapal selam lebih besar dari air laut.

Kapal selam memiliki tangki pemberat yang berisi air dan udara yang terletak di antara lambung kapal sebelah dalam dan luar. Tangki ini berfungsi untuk memperbesar dan memperkecil massa jenis total kapal selam. Ketika air laut dipompa masuk ke dalam tangki pemberat, massa jenis kapal selam lebih besar dan sebaliknya agar massa jenis total kapal selam menjadi kecil, air laut dipompa keluar.

2)      Penerapan konsep massa jenis pada balon gas
Balon gas berisi gas helium. Gas helium memiliki massa jenis yang lebih kecil dari udara, sehingga balon gas bisa naik ke atas.

3)      Penerapan konsep massa jenis pada air minum dingin di dalam lemari es
Botol air minum dingin yang berasal dari lemari es terdapat endapan kapur. Hal ini dikarenakan air yang jernih dapat juga mengandung kapur, namun apabila dilihat langsung dengan mata tidak kelihatan. Ketika air dingin berada di dalam lemari es, massa jenisnya menjadi lebih kecil dan terpisah dari kapur sehingga kapur yang memiliki massa jenis lebih besar akan turun ke bawah dan mengendap.

4)      Ban karet atau pelampung untuk berenang atau pertolongan
Udara yang dipompakan ke dalam ban akan menurunkan massa jenis ban sehingga ban memiliki massa jenis yang lebih kecil daripada air. Maka dari itu, ban selalu terapung pada air.


III.             ALAT DAN BAHAN
1.      Penggaris                     1 buah
2.      Neraca digital              1 buah
3.      Kubus material            3 buah
IV.             LANGKAH KERJA
A.    Massa Jenis Benda Padat
Flowchart: Alternate Process: Timbang massa kubus material I, II dan III dengan neraca digital


Flowchart: Alternate Process: Ukur kubus material I, II dan III dengan penggaris kemudian hitung volumenya


Flowchart: Alternate Process: Hitung rapat massa dengan membagi massa dengan volume kubus material



B.     Massa Jenis Benda Cair
Flowchart: Alternate Process: Timbang gelas ukur kosong


Flowchart: Alternate Process: Isi gelas ukur dengan 10 cm3 air, timbang massa gelas ukur berisi air tersebut


Flowchart: Alternate Process: Hitung rapat massa dengan membagi massa air [(massa gelas ukur + air) – massa gelas ukur] dengan volume air


Flowchart: Alternate Process: Ulangi langkah 1, 2 dan 3 untuk volume air 20 cm3 dan 30 cm3




V.                DATA PERCOBAAN
A.    Massa Jenis Benda Padat
Nama Benda
Massa (g)
Volume (cm3)
Rapat Massa (g/cm3)
Kubus Material I
22,7
7,22
22,7/7,22
Kubus Material II
52,2
6,5
52,2/6,5
Kubus Material III
57,4
6,86
57,4/6,86

B.     Massa Jenis Benda Cair
Massa gelas ukur kosong = 29,1 g
Volume air (cm3)
Massa gelas ukur + air (g)
Massa air (g)
Rapat massa (g/cm3)
10
34,7
5,6
5,6/10
20
45,8
16,7
16,7/20
30
56,2
27,1
27,1/30


VI.             HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Massa Jenis Benda Padat
Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, didapatkan data seperti pada tabel. Sehingga dapat dilakukan penghitungan untuk menemukan massa jenis benda.

1.      Kubus Material I
m   = 22,7 g
v    = 2 × 1,9 × 1,9
      = 7,22 cm3
ρ    = m/v
      = 22,7/7,22
      = 3,14 g/cm3

2.      Kubus Material II
m   = 52,2 g
v    = 1,9 × 1,8 × 1,9
      = 6,5 cm3
ρ    = m/v
      = 52,2/6,5
      = 8,03 g/cm3

3.      Kubus Material III
m   = 57,4 g
v    = 1,9 × 1,9 × 1,9
      = 6,86 cm3
ρ    = m/v
      = 57,4/6,86
      = 8,37 g/cm3

Dari hasil penghitungan, maka dapat diketahui kubus material I, II dan III memiliki massa jenis yang berbeda satu dengan yang lain.

Hal ini dikarenakan setiap kubus material terbuat dari jenis bahan yang berbeda-beda. Seperti yang sudah dijelaskan diawal, jika suatu zat terbuat dari jenis bahan yang berbeda, maka zat tersebut akan memiliki massa jenis yang berbeda.  

B.     Massa Jenis Benda Cair
Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, didapatkan data seperti pada tabel dengan massa gelas ukur kosong = 29,1 gram. Sehingga dapat dilakukan penghitungan untuk menemukan massa jenis benda.

1.      Volume air 10 cm3
mgelas+air      = 34,7 g
mair             = mgelas+air – mgelas kosong
                  = 34,7 – 29,1
                  = 5,6 g
v                = 10 cm3
ρ                = mair/v
                  = 5,6/10
                  = 0,56 g/cm3

2.      Volume air 20 cm3
mgelas+air      = 45,8 g
mair             = mgelas+air – mgelas kosong
                  = 45,8 – 29,1
                  = 16,7 g
v                = 20 cm3
ρ                = mair/v
                  = 16,7/20
                  = 0,84 g/cm3

3.      Volume air 30 cm3
mgelas+air      = 56,2 g
mair             = mgelas+air – mgelas kosong
                  = 56,2 – 29,1
                  = 27,1 g
v                = 30 cm3
ρ                = mair/v
                  = 27,1/30
                  = 0,9 g/cm3

Dari hasil penghitungan, dapat diketahui bahwa setiap percobaan dengan volume yang berbeda memiliki massa jenis yang berbeda – beda.

Hal ini dikarenakan volume zat cair akan mempengaruhi massa jenis dari suatu benda, dimana semakin besar volume benda maka massa jenis benda tersebut akan semakin kecil.


VII.          KESIMPULAN
Massa jenis adalah perbandingan antara besarnya massa dengan volume suatu zat/benda.

Secara matematis, massa jenis dapat dirumuskan sebagai berikut.

e9306ec7c31a645b9e301b006f1f5ecd.png ρ dibaca rho.

dengan :
ρ    = massa jenis (kg/m3) 
m   = massa benda (kg)
v    = volume benda (m3)

Konsep massa jenis diterapkan pada kapal selam, balon gas, pelampung, air minum dingin dalam lemari es dan lain sebagainya.

Massa jenis zat tidak dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran benda. Jika suatu zat terbuat dari jenis bahan yang sama, maka zat tersebut akan memiliki massa jenis yang sama. Sebaliknya, Jika suatu zat terbuat dari jenis bahan yang berbeda, maka zat tersebut akan memiliki massa jenis yang berbeda.

Volume suatu zat akan mempengaruhi massa jenis zat tersebut, dimana semakin besar volume benda maka massa jenis benda tersebut akan semakin kecil.